Google December 2011 / Waliangers

.


Benua Afrika Retak


Celah sepanjang 55 kilometer di gurun Ethiopia diperkirakan akan berkembang menjadi samudra baru. Celah selebar 6 meter di beberapa titik tersebut mulai terbuka tahun 2005, dan sejumlah ahli geologi yakin itu akan menjadi cikal bakal samudra baru.
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan tim peneliti internasional dan dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, terungkap bahwa proses terbentuknya celah itu serupa dengan yang terjadi di dasar samudra. Aktivitas yang sama saat ini juga terjadi di Laut Merah.

Menggunakan kumpulan data seismik dari 2005, para peneliti mencoba merekonstruksi peristiwa itu untuk menunjukkan bahwa celah itu terbuka sepanjang 55 kilometer hanya dalam waktu beberapa hari. Mulanya, Dabbahu, yang merupakan gunung berapi di ujung utara celah, meletus, lalu aliran magma mendorong melalui tengah-tengah celah dan mulai membuka retakan di kedua arah.

"Kita tahu bahwa pegunungan dasar laut muncul akibat desakan magma seperti ini, tapi kita tak pernah tahu bahwa desakan magma bisa membuatnya terpecah seperti ini," kata Cindy Ebinger, Profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan Hidup di Universitas Rochester.

Hal itu menunjukkan bahwa gunung berapi aktif di sepanjang tepi lempeng tektonik samudra bisa tiba-tiba pecah dalam bagian yang luas, dan bukan dalam bagian kecil-kecil seperti yang diyakini selama ini. Peristiwa retakan yang datang tiba-tiba di daratan akan lebih berbahaya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” ucap Ebinger.

Lempengan Afrika dan Arab yang bertemu di padang terpencil Afar Ethiopia Utara kini mulai merekah akibat proses itu dengan laju kurang dari 1 inci per tahun selama 30 juta tahun terakhir. Celah ini membentuk depresi Afar sepanjang 300 km hingga Laut Merah.

Melalui jalur itu, Laut Merah diperkirakan akan mengalir ke rekahan Ethiopia dan membentuk laut baru sekitar sejuta tahun mendatang. Laut baru itu akan menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, serta Laut Arab antara Yaman di Jazirah Arab dan Somalia di Afrika Timur



Description: Benua Afrika Retak

Rating: 4.5

Reviewer: Ngurah Suryatmaja

Item Reviewed: Benua Afrika Retak

Selengkapnya


10 Mahluk Teraneh di Dunia

Dr. Takeshi Yamad
Dr. Takeshi YamadDr. TAKESHI YAMADA, peneliti asal Jepang, menemukan 10 makhluk aneh yang mengegerkan dunia ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah monyet vampire di China. Seperti yang kita ketahui tentang vampire, maka hidup monyet vampire ini tergantung dari menghisap darah makhluk lain.

Vampire Monke
 
 
 
Uniknya makhluk ini dalam beraktivitas banyak menggunakan tangannya, seperti halnya manusia. Spesies ini diyakin sebagai mata rantai yang putus dari evolusi manusia hingga berbentuk seperti sekarang. Keunikan lainnya, monyet ini seperti burung yang menenun sarangnya.



Siput Chupacabra
Penemuan Dr. Takeshi Yamada yang menghebohkan lainnya adalah keong raksasa yang ditemukan dari laut terdalam. Kakinya seperti chupacabra, karena itu diberi nama siput chupacabras. 





Siput Pemakan Daging

Penemuan lainnya adalah siput pemakan daging terbesar di dunia ini, ditemukan awal tahun 2007. Siput ini juga punya senjata racun yang konon sangat mematikan. 





Blue Merman
Yang tak kalah mengerikan adalah blue merman yang ditemukan di Pulau Sado. Mirip spesies kadal atau bunglon. Makhluk ini juga berbahaya pada tangan-tangannya yang bisa mengembang. Bila usianya semakin bertambah, bintang ini akan terlihat mirip kodok.





Mummi Bayi berwajah dua
Mumi bayi berwajah dua ini kini berada di museum kedokteran di Coney Island Hospital.









Naga Laut Raksasa

Disebut naga laut raksasa ditemukan di dasar laut Pulau Awaji. Makhluk ini diduga telah punah pada awal abad ke-20.







Kepiting Ladam

Dua spesies baru kepiting ladam, diduga hidup masa masa pra sejarah sekitar 400 juta tahun lalu. Baru baru ini kepiting purba ini ditangkap oleh tim peneliti dasar laut dari Universitas Higashi Osaka Jepang. Masih ada empat species kepiting purba yang diindetifikasi hidup 250 juta tahun lalu. 


 
Semut berwajah manusia

Penemuan kali ini tak kalah aneh, semut berwajah manusia. Dalam mitologi India dipercaya orang bertabiat buruk akan bereinkarnasi menjadi semut. Ada banyak semut-semut berwajah manusia yang ditemukan di India, melebihi di negara manapun. Salah satu contohnya adalah yang dimiliki dr Takeshi Yamada yang merupakan hasil ekspedisi tahun 2004. Coney Island Anthropoliogical Institute juga memiliki koleksi ini. 






St. Helena Giant Earwig

Makhluk yang berasal dari St Helena ini, diduga telah punah pada beberapa decade yang lalu diduga karena pembangunan pelabuhan udara internasional di sana. Himpunan ilmuwan dan pemerhati entomologists melakukan protes dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan punahnya spesies ini. Penelitian yang dipimpin Dr Takeshi Yamada pada 2005 menemukan beberapa spesies baru earwigs raksasa. Penelitian ini merupakan bagian dari program yang dilakukan di Coney Island University. 


Fiji Mermaid

Fiji Mermaid sepanjang 6 kaki mirip putri duyung ditemukan di Shikoku, Jepang. Disebut Ningyo Shinko. Banyak tempat keramat agama Shinto dan kuil Budha mengabadikan mermaid ini sebagai makhluk suci.Orang datang untuk bersembahyang di tempat2 ini setiap hari.


Description: 10 Mahluk Teraneh di Dunia

Rating: 4.5

Reviewer: Ngurah Suryatmaja

Item Reviewed: 10 Mahluk Teraneh di Dunia

Selengkapnya


Brahmacari, ''Long Life Education''


Masyarakat Hindu tidak asing lagi dengan konsep Catur Asrama, empat tahapan kehidupan yang harus dilalui. Ada Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta dan Sanyasin. Dalam konteks kekinian, Brahmacari banyak mendapat perhatian. Brahmacari merupakan dasar penciptaan manusia yang berkualitas, sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Bagaimana seharusnya kita memahami dan menjalani Brahmacari ini?

Pada awalnya, Catur Asrama banyak berhubungan dengan dunia kependetaan. Pembagiannya pun sama. Ada Wiku Brahmacari (pendeta yang tidak menikah), Wiku Grahasta (pendeta yang berumah tangga), Wiku Wanaprasta (pendeta yang tinggal menyepi di hutan) dan Wiku Sanyasin (pendeta yang mengembara).

''Raja-raja pada zaman dahulu berusaha menciptakan suasana yang kondusif agar pendeta-pendeta itu bisa memberi getaran atau vibrasi spiritual bagi wilayahnya,'' kata IBG Agastia. Bahkan, rakyat juga ikut berlomba-lomba memberikan makanan bagi Wiku Sanyasin. Mereka percaya dengan adanya pendeta yang mengembara dan sampai ke wilayahnya, tentu mereka akan memperoleh kekuatan spiritual dan bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Berikutnya dalam konteks kehidupan masyarakat Bali, Catur Asrama juga disusun sedemikian rupa. Ini bisa kita temui dalam desa pakraman atau desa pasraman. Brahmacari identik dengan sekaa teruna, grahasta identik dengan krama banjar, wanaprasta identik dengan penglingsir, dan Sanyasin identik dengan pendeta atau mereka yang nukuhin (tinggal di dukuh atau luar desa untuk menyepi).

Dicontohkan, adalah pemberian nama pada seseorang yang berada di desa parkraman tersebut. I Anu untuk Brahmacari, Pan Anu atau Ajin Anu untuk Grahasta, Pekak Anu atau Kakiang Anu untuk Wanaprasta dan pendeta atau begawan untuk Sanyasin. ''Untuk yang nukuhin malah tidak dikenai urunan di banjar, mereka bebas dari tanggung jawab banjar,'' terang pria asal Mambal ini.

Untuk sekaa teruna, diharapkan benar-benar dibina agar bisa menjadi generasi penerus krama banjar. Penguasaan estetika oleh generasi muda sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat nantinya. Agastia juga menekankan budaya malu yang harus dimiliki generasi muda itu. Jangan malu untuk belajar dan isilah waktu untuk belajar daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, seperti nongkrong di pinggir jalan atau mabuk-mabukan.

Masih dalam tataran konsep, dijelaskan juga adanya hubungan yang erat antarkeempat bagian dari Catur Asrama ini. Taki takining sewaka guna widya (mulai mencari keterampilan dan pengetahuan) adalah brahmacari, ruang puluhing ayuse semara wisaya (melakukan pernikahan setelah berusia 20 tahun ke atas) adalah grahasta, tengahing tuwuh sanwacana gegonta (tengah umur tekun mempelajari kitab suci) adalah wanaprasta dan patilaring atmeng tanu paguruaken (melepas atma dari badan harus dipelajari lewat guru) adalah Sanyasin.

''Keempat hal ini memiliki suatu benang merah, yakni belajar seumur hidup (long life education),'' terang agamawan yang dulu aktif di PHDI ini.

Masa paling Sulit

Ditambahkannya, masa grahasta merupakan masa yang paling sulit. Alasannya adalah saat memasuki masa ini kita harus bisa membagi kapan mencari artha, kapan melepaskan artha tersebut dan kapan kita harus menyimpannya. Menyimpan dalam hal ini bukan semata dalam bentuk kongkret, bisa saja dalam bentuk abstrak. Menolong tetangga yang kesusahan bisa dikategorikan menyimpan artha dalam arti abstrak sebagai investasi di dunia sana.

Berkaitan dengan artha ini, Catur Asrama bertalian erat dengan Catur Purusa Artha. Brahmacari bertujuan mencari dharma, grahasta bertujuan mencari artha dan kama, wanaprasta dan sanyasin bertujuan mencari moksa. Dalam tahapan Brahmacarilah waktu yang benar-benar digunakan untuk mencari pengetahuan dan keterampilan, untuk meningkatkan kualitas diri.

Senada dengan Agastia, IDG Windhu Sancaya mengatakan, konsep brahmacari merupakan konsep yang sangat ideal. Brahmacari adalah saat yang harus benar-benar kita manfaatkan sebelum kita menapaki tahapan berikutnya. Namun, ia mengakui walaupun konsepnya ideal, dalam pelaksanaan di lapangan, sepertinya tidak bisa berjalan dengan sempurna. Contohnya, banyak anak muda sekarang yang harus menjalani kehidupan grahasta (berumah tangga) padahal masa brahmacari mereka masih berlangsung. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau ini terjadi. ''Sistem dan lingkungan,'' tegas Ketua Peradah Bali ini. Tak hanya itu, keluarga juga dianggap memiliki peran penting. Sering terjadi, keluarga yang orangtuanya sibuk, pendidikan anaknya menjadi telantar ditambah lagi pengaruh lingkungan yang kurang baik menyebabkan anak menjadi liar dan bebas. ''Masa muda adalah masa belajar, masa mencari pengetahuan,'' tambahnya.

Disiplin merupakan kata kunci yang juga ditekankan Windhu. Kalau sudah bisa mendisplinkan diri dalam memahami tahapan-tahapan kehidupan, tentu semua akan berjalan lancar. Selain itu, evaluasi juga perlu mendapat porsi. Dengan mendisiplinkan diri dan melakukan evaluasi, tentu konsep brahmacari yang ideal ini bisa terwujudkan.

Dosen Fakultas Satra Universitas Udayana ini mengibaratkan manusia sebagai ilalang. ''Saat muda, kita ibarat daun ilalang yang tajam dan saat daun ilalang itu tua, dia dijadikan atap yang melindungi.'' Di Bali sendiri sudah mengenal adanya upacara menek kelih yakni saat anak beranjak remaja menuju dewasa. Tetapi sangat disayangkan makna dari upacara ini sering tidak dipahami. Habis upacara selesai, ya... sudah selesai.
Lingkungan pun ternyata memberi pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak-anak yang mulai tumbuh remaja. Kalau iman dan moral mereka tidak kuat, bisa mubazir diadakannya upacara menek kelih tersebut. Sebagai contoh adalah anak-anak muda sekarang yang gemar bermain play station (PS) atau biliar. Mereka mengaku berangkat dari rumah mau ke sekolah, lengkap dengan pakaian sekolahnya, tetapi di jalan mereka ''belok'' ke arah tempat permainan PS dan biliar. ''Ini kan sangat disayangkan, manfaatkanlah masa belajar dengan baik.''

Baik Windhu maupun Agastia sama-sama menyadari ini merupakan tugas semua komponen. Pemerintah, sekolah, masyarakat, keluarga dan individu itu sendiri. Kalau tidak ada kerja sama tentu sulit untuk menemukan akar permasalahannya. ''Kerja sama ini juga harus sporadis dengan inti teladannya adalah keluarga,'' kata Windhu. Sementara sekolah juga jangan terlalu memberatkan anak-anak dengan berbagai macam pelajaran. Dia menyarankan cukup tiga saja yang diutamakan yakni matematika, bahasa dan filsafat atau logika.

Bagi institusi-institusi keagamaan juga diharapkan lebih memantapkan pendalaman Sradha bagi generasi muda. Pemerintah pun diharapkan bisa memberikan beasiswa bagi kelangsungan pendidikan generasi muda. ''Peran dan perhatian pemerintah juga harus lebih meningkat untuk memperhatikan pendidikan, jangan hanya sibuk mengurusi politik saja,'' tegas Agastia. Ia menambahkan, siapa pun yang memegang kekuasaan harus bisa membangun kesadaran pendidikan ini.
Agastia juga memberi acungan jempol bagi mereka yang saat masa brahmacari harus menikah mau melanjutkan sekolahnya. Masih ada kemauan mereka untuk belajar dan masih ada sekolah yang mau memberikan perhatian. Karena itu, ia berpesan, manfaatkanlah masa brahmacari sebaik-baiknya demi kehidupan di masa depan. ''Tidak ada kata terlambat untuk belajar.'' (wah)
Sumber : Bali Post 


Description: Brahmacari, ''Long Life Education''

Rating: 4.5

Reviewer: Ngurah Suryatmaja

Item Reviewed: Brahmacari, ''Long Life Education''

Selengkapnya

Waliangers. Powered by Blogger.