.
| Photo by Ngurah Suryatmaja |
Pada sebuah sore yang indah, di sebuah warung tuak di Karangasem, sekelompok orang tua duduk melingkar beralaskan tikar. Di tengah-tengah lingkaran terhidang lima botol tuak, sate babi, lawar dan camilan lainnya. Sambil meneguk tuak, mereka tampak asyik bercengkerama tentang padi-padi yang mulai panen, tentang kesibukan para caleg mengobral janji-janji membela rakyat jelata, tentang situasi desa, dan sebagainya.
Para orang tua itu hampir setiap sore datang ke warung tuak langganannya. Mereka bukan hanya melampiaskan keinginan minum tuak, namun juga kebutuhan bertemu teman-teman sebaya dan ngobrol berbagai hal yang menarik dibicarakan. Secara tidak tertulis mereka telah membuat semacam sekehe metuakan, kelompok minum tuak.
Seringkali acara metuakan telah menjadi semacam forum tidak resmi yang menampung berbagai aspirasi yang tidak tersalurkan pada lembaga-lembaga resmi. Berbagai macam unek-unek, keluh kesah, kritik, gosip, dan obrolan tentang berbagai pokok persoalan yang nyangkut di pikiran mereka menemui pelepasan dalam forum yang penuh aroma alkohol tersebut.
Tuak dibuat dari sadapan air bunga pohon jake (enau), nyuh (kelapa), dan ental (lontar/siwalan). Dari sana muncul istilah tuak jake, tuak nyuh dan tuak ental. Tuak jake banyak dibuat di Tenganan, Gumung dan Bebandem. Tuak Nyuh dibuat di daerah yang banyak pohon kelapanya, seperti Pikat, Pidpid, Gunaksa. Sedangkan tuak ental dikenal di daerah yang banyak ditumbuhi pohon ental, seperti Merita, Culik, Tianyar, Kubu. Tuak jake lebih terasa enak, bersifat netral, proses dalam tubuh cepat dan sering kencing. Tuak Nyuh kadar alkoholnya lebih keras dari tuak jake, peminum umumnya cepat merasa pusing. Sedangkan tuak ental lebih berat kadar alkoholnya dibanding tuak nyuh, rasanya lebih gurih, cepat membuat mabuk. Secara umum orang-orang Karangasem lebih menggemari tuak jake.
Proses membuat tuak jake sangat lama, bisa memakan waktu sampai 21 hari. Dimulai dari ngayunan, bunga jake diayun-ayun sampai satu jam. Kemudian dilanjutkan dengan proses notok, batang bunga jake dipukul-pukul berulang-ulang setiap hari selama satu jam dan berlangsung sampai dua minggu. Setelah dirasa cukup umur, maka dilanjutkan dengan nimpagang, mengiris batang bunga dan mengecek ada air atau tidak pada bunga jake itu. Kemudian dilanjutkan dengan nadah, batang bunga jake disadap dengan brengkong, wadah yang dibuat dari pelepah pohon pinang. Satu batang bunga jake bisa menghasilkan satu brengkong setiap kali menurunkan tuak yang dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore. Kalau lagi untung dalam sehari bisa mendapatkan dua jerigen (isi 8 botol) tuak. Dan satu pohon jake bisa menghasilkan tuak hingga tiga bulan. Pada prinsipnya proses mencari tuak nyuh dan ental hampir sama dengan tuak jake.
Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis. Maka untuk membuat rasanya lebih gurih, tuak dicampur dengan ramuan khusus yang disebut lau. Secara umum lau berpengaruh pada rasa dan kadar alkohol tuak. Lau yang paling bagus diolah dari babakan (serbuk) kayu pohon kutat dicampur dengan serbuk kulit pohon cabe tabia bun. Kalau cara mengolah lau kurang pas, maka tuak akan terasa kecing atau masam.
Berbeda dengan arak, tuak tidak berumur panjang. Tuak paling enak diminum ketika baru diturunkan dari pohonnya. Orang Karangasem mengenal rasa tuak yang nasak badung, rasanya lebih tawar dan agak masam, namun masih bisa diminum. Ada tuak yang rasanya lebih netral, tidak terlalu tua dan tidak terlalu masam, dan masih enak untuk diminum. Tuak jenis ini disebut semedah. Tuak wayah adalah tuak yang telah tersimpan satu sampai dua hari. Kalau tuak telah tersimpan dua sampai tiga hari disebut tuak bayu. Dan tuak yang tersimpan lebih dari tiga hari akan menjadi cuka.
Di Karangasem, alat untuk menampung atau minum tuak bermacam-macam jenisnya. Untuk menampung tuak dari pohonnya dipakai brengkong dan kele (bumbung bambu ukuran besar dan panjang). Sebelum morong populer, dahulu orang menyimpan tuak menggunakan cekel, bumbung bambu agak besar lengkap dengan tutupnya dan di ujung atasnya terdapat saluran yang dibuat dari buluh bambu kecil. Agak mirip dengan cekel disebut ganjreng dimana saluran tuaknya terletak di bawah/dasar wadah. Untuk tempat minum tuak dipakai bumbung (gelas bambu ukuran sedang, setara dengan gelas jus), dasar (cawan dari kau atau batok kelapa), dan beruk (cawan ukuran sedang dari kau atau batok kelapa). Nama wadah tuak ini sering berbeda-beda di tempat lainnya di Bali. Sekarang, untuk kepraktisan, wadah tuak tradisional itu diganti dengan jerigen, morong, botol dan gelas.
Sekehe-sekehe metuakan dengan mudah bisa ditemui di sudut-sudut jalan pedesaan di Karangasem. Mereka membuat kelompok berdasarkan pertemanan, biasanya berjumlah antara 3-5 orang. Anggota baru agak susah bergabung ke dalam kelompok karena harus mampu beradaptasi dan mempelajari karakter kelompok. Pada saat metuakan, orang-orang tua berkelompok dengan sesama orang tua, anak-anak muda membuat kelompok dengan teman-teman sebayanya. Jarang ditemui kelompok campuran, antara anak muda dan orang tua. Karena kelompok campuran biasanya akan kesulitan pada saat ngobrol atau diskusi. Obrolan anak-anak muda terkadang tidak nyambung dengan obrolan orang-orang tua.
“Dalam membuat sekehe, kami mengajak kawan-kawan akrab yang kami sudah tahu tabiat dan tingkatan mabuknya. Kami sangat menghindari peminum yang suka bikin onar saat mabuk. Kami metuakan bukan untuk cari ribut, melainkan untuk kumpul-kumpul dengan teman-teman dan menghilangkan stress,” ujar Made Kaler, seorang peminum dari Jungsri, Bebandem.
Namun seringkali sekehe metuakan juga disusupi kader-kader partai politik pada saat musim-musim kampanye. Tujuannya jelas untuk mencari massa. Kader-kader partai politik ini biasanya mentraktir anggota sekehe minum tuak sepuas-puasnya. Di pertengahan acara minum, kader partai mengarahkan obrolan kepada soal-soal partai, janji-janji partai, dan buntutnya sekehe diharapkan memilih dirinya. Untuk masuk dan bisa diterima dalam sekehe metuakan, tentu kader-kader partai harus mampu beradaptasi dan memilih sasaran secara tepat. Karena tidak semua sekehe metuakan mau mendengar ocehan para kader partai atau caleg yang sekarang berlomba-lomba mencari massa.
Tradisi metuakan di Karangasem sudah terkenal sejak dahulu. Karangasem merupakan penghasil tuak terbesar di Bali. Hampir di setiap desa bisa dijumpai warga yang berprofesi sebagai pembuat tuak dan pedagang tuak. Bahkan tuak itu dikirim dan dijual hingga ke daerah-daerah lain, termasuk Denpasar. Karangasem juga dikenal dengan kesenian Genjek dan Cakepung dimana peranan tuak sangat penting dalam kesenian tersebut. Para pemain Genjek dan Cakepung bergiliran minum tuak sambil menyanyi dengan musik mulut dan menari-nari di tengah lingkaran. Kesenian ini sangat semarak dan penuh dengan nuansa pesta pora.
| Photo by Ngurah Suryatmaha |
Sekehe metuakan biasanya memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama diantara anggota sekehe. Aturan-aturan tak tertulis ini terkadang berbeda-beda antara sekehe satu dengan lainnnya, atau antara daerah satu dengan lainnya. Ada aturan yang mewajibkan masing-masing anggota sekehe membawa tuak dari rumah sesuai kemampuan dan keperluan minum. Kalau tempat berkumpulnya di warung tuak, anggota sekehe akan patungan membeli tuak. Terkadang ada anggota sekehe yang mentraktir kawan-kawannya minum tuak. Di Karangasem, harga sebotol tuak sekitar Rp.1500. Dalam acara metuakan, satu kelompok yang terdiri dari 5 orang bisa menghabiskan 10 botol tuak, bahkan terkadang lebih.
Acara metuakan diatur oleh seseorang yang biasa disebut bandar. Bandar bertugas menuangkan tuak ke dalam gelas dan membagikan secara bergiliran kepada anggota sekehe. Kadangkala kalau terjadi diskusi atau perdebatan, bandar juga bertugas menjadi moderator. Anggota sekehe minum secara bergiliran dengan menggunakan satu gelas. Penggunaan gelas secara sendiri-sendiri tidak diperkenankan. Dan bahkan bisa memunculkan ketersinggungan dari anggota sekehe lainnya. Apalagi kalau ada anggota yang baru bergabung, lalu minum tuak menggunakan gelasnya sendiri, dianggap egois dan tidak tahu aturan minum. Anggota baru ini bisa membuat perasaan anggota sekehe lain tidak enak. Penggunaan satu gelas secara bersama-sama dianggap sebagai bentuk rasa solidaritas dan memupuk kebersamaan dan kekeluargaan di antara anggota sekehe.
“Aturan lain, cara meminum tuak harus sekali minum. Kalau ada orang minum tuak seperti minum kopi, pelan-pelan dan sedikit-sedikit, orang itu biasanya akan jadi bahan olok-olok,” kata Ketut Gingsir, pemuda yang suka nongkrong di warung tuak di Ababi, Karangasem.
Menurut Made Adnyana, seorang sesepuh desa Ababi yang hobi minum tuak, dalam metuakan ada delapan urutan minum yang dikaitkan dengan tingkat kemabukan. Secara umum hitungan minumnya adalah bumbung atau gelas.
Pertama, Eka Padmasari, peminum baru mulai minum tuak. Satu bumbung untuk tegukan pertama. Aliran tuak terasa nyaman dalam tubuh, apalagi diselingi obrolan-obrolan ringan dan bersenda gurau. Acara minum tuak masih diliputi semangat kebersamaan dan kekeluargaan.
Kedua, Dwi Angemertani, peminum mengangkat bumbungnya yang kedua. Pada tahap ini tuak merupakan amerta, air kehidupan. Biasanya setiap sore orang-orang tua akan menyuruh anak atau cucunya membeli tuak satu botol untuk diminum sehabis makan nasi. Minum satu atau dua gelas tuak menjadi penyempurna perut yang kenyang. Pada tingkatan ini tuak tidak membuat mabuk.
Ketiga, Tri Raja Busana, peminum sudah menenggak 3 bumbung tuak. Pada tahapan ini tanda-tanda awal mabuk sudah kelihatan. Wajah menjadi bersemu merah. Peminum mulai berlagak dan bertingkah seperti raja, main perintah sana-sini. Bahkan gaya duduknya sudah kayak sikap raja.
Keempat, Catur Kokila Basa, ini tahapan ketika peminum sudah meneguk 4 bumbung tuak. Tingkah lakunya sudah seperti burung kutilang, banyak berkicau. Jika mau mengorek rahasia seseorang bisa dimulai pada tahapan ini. Semua rahasia yang sebelumnya tersimpan rapat akan dibeberkan dengan tanpa beban oleh si peminum yang agak mabuk. Omongan ngelantur ke sana-sini. Acara minum menjadi ramai. Kadang kala omongan si peminum kebablasan sehingga membuat teman jadi tersinggung.
Kelima, Panca Wanara Konyer, tahap dimana peminum sudah menghabiskan 5 bumbung tuak. Kepala sudah mulai pusing. Namun nafsu minum masih bergejolak. Ingin nambah terus. Pada tahap ini perilaku peminum seperti monyet yang lincah, nakal dan usil. Perilaku aneh-aneh juga muncul, seperti menari-nari sendiri, ngoceh tidak jelas, atau kebut-kebutan menyerempet bahaya di jalan. Kalau acara metuakan diikuti lebih dari lima orang, maka tembang-tembang genjek mulai berkumandang menambah semarak suasana minum. Pada tahap ini kadangkala terjadi pertengkaran kecil di antara peminum karena persoalan-persoalan sepele. Alkohol telah mengacaukan syaraf. Kata-kata yang terlontar menjadi tidak terkendali.
Keenam, Sad Wanara Rukam, peminum sudah memasuki tahap bumbung keenam. Perilakunya seperti monyet kena sampar atau penyakit, lebih banyak duduk diam dan mengkerut. Selera usil dan iseng perlahan mereda. Alkohol sudah memenuhi aliran syaraf. Kepala semakin pusing. Peminum terlihat lebih banyak melamun dan tidak banyak bicara.
Ketujuh, Sapta Ketoya Baya, bumbung ketujuh telah diteguk. Inilah tahap yang rawan baya (bahaya). Saat dimana kadar alkohol dalam tubuh dengan mudah bisa mendatangkan malapetaka. Keributan dan perkelahian dengan mudah meledak di antara peminum. Perilaku mabuk yang aneh-aneh pun bermunculan. Yang paling parah adalah mengamuk gelap mata. Endapan-endapan emosi meledak, menemui pelepasan.
Kedelapan, Asta Kebo Dangkal, peminum sudah memasuki bumbung kedelapan. Peminum sudah benar-benar melampaui ambang mabuk. Pikiran sehat jadi macet total. Pada tahap ini banyak peminum yang tergeletak di sembarang tempat, tidur mendengkur seperti kerbau (kebo).
Diambil dari berbagai sumber
Description: Tradisi Metuakan di Karangasem
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
Item Reviewed: Tradisi Metuakan di Karangasem
Monday, September 26, 2011
//
Labels:
Budaya Bali
// //
Megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sebagian orang untuk duduk bersama saling berbagi satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Tidak hanya perut kenyang yang didapat dari kegiatan ini namun sembari makan kita dapat bertukar pikiran bahkan bersendagurau satu sama lain.
Megibung bersasal dari kata dasar gibung yang mendapat awalan me-. Gibung berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang yaitu saling berbagi antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan.
Tradisi Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi Masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan, Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara.
Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat dijumpai pada saat prosesi berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan di kasi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah menjadi menu pelengkap yang menggugah selera seperti sate, lawar, soup (komoh), Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapipun tidaklah masalah.
Megibung berlangsung apabila tamu undangan sudah lama bersanda gurau dengan kerabat serta sanak saudara serta setelah selesai membantu tugas-tugas yang dapat dilakukan guna kelangsungan acara tersebut, sebelum para undangan pulang terlebih dahulu di ajaklah untuk makan (megibung) sebagai tanda terimakasi atas kedatangan dan bantun dalam acara tersebut. Dalam Megibung biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran. Adapun ciri khas dari megibung ini adalah :
Megibung bersasal dari kata dasar gibung yang mendapat awalan me-. Gibung berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang yaitu saling berbagi antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan.
Tradisi Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi Masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan, Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara.
Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat dijumpai pada saat prosesi berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan di kasi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah menjadi menu pelengkap yang menggugah selera seperti sate, lawar, soup (komoh), Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapipun tidaklah masalah.
Megibung berlangsung apabila tamu undangan sudah lama bersanda gurau dengan kerabat serta sanak saudara serta setelah selesai membantu tugas-tugas yang dapat dilakukan guna kelangsungan acara tersebut, sebelum para undangan pulang terlebih dahulu di ajaklah untuk makan (megibung) sebagai tanda terimakasi atas kedatangan dan bantun dalam acara tersebut. Dalam Megibung biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran. Adapun ciri khas dari megibung ini adalah :
Duduk bersila membentuk lingkaran yang terdiri dari 5-7 orang.
Nasi yang disuguhkan ditaruh dalam satu wadah (nare besar).
Lauk atau pelengkap nasi berupa sate, lawar, soup, Gegubah/lempyong, pepesan yang ditempatkan dalam satu wadah (nare kecil).
Kegiatan makan dilakukan secara bersamaan dan makan menggunakan tangan.
Pada saat makan tidak boleh ada yang terjatuh di wadah/tempat nasi namun harus di luar nare tempat nasi tersebut.
Apabila ada salah seorang peserta megibung ada yang terlebih dahulu kenyang, orang tersebut tidak boleh terlebih dahulu bangun atau meninggalkan tempat megibung namun meski menunggu yang lain supaya selesai makan dan bangun secara bersama-sama.
Kegiatan Megibung maknanya sangatlah besar bagi kita semua terutama dalam hal kebersamaan serta saling berbagi satu sama lain tanpa melihat kasta dan materi yang dimiliki seseorang. Namun seiring perkembangan jaman, Megibung bagi kalangan orang-orang mampu kini sudah bukanlah merupakan keharusan lagi, karena dengan adanya catering mereka dengan mudah dapat memesan makanan apapun yang mereka kehendaki (perasmanan). Memang hal seperti ini sangatlah praktis, namun hal seperti ini sangat disayangkan karena mampu mengakibatkan hilangnya tradisi yang sudah diwarisi dari nenek moyang yang semestinya harus terus dijaga bahkan diwariskan kepada generasi penerus kita agar para generasi penerus kita semakin memahami arti penting dari kebersamaan dan memiliki rasa untuk saling berbagi satu sama lain. Bahkan pada tahun 2006 di Karangasem pernah diadakan acara Megibung Masal yang diselenggarakan oleh pemerintah guna memecahkan Rekor Muri yang di selenggarakan di Taman Sukasada Ujung Karangasem.
Dari uraian diatas dapat disimpukan bahwa dari hal kecil yaitu makan mampu memberikan suatu pembelajaran bahkan memiliki makna yang sangat besar di dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai warga masyarakat Karangasem khususnya dan Bali pada umumnya marilah kita bersama-sama jaga tradisi yang kita miliki sehingga keberadaannya akan dapat kita lihat, jaga dan di tumbuh kembangkan sepanjang masa. Jangankan penduduk asli karangasem, para touris asing yang di tempat asalnya tidak sama sekali mengenal yang namanya megibung mau melakukan kegiatan ini dan menikmati secara antusias.
sumber : jurnal.isi-dps.ac.id
Description: Megibung, Tradisi Masyarakat Karangasem
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
Item Reviewed: Megibung, Tradisi Masyarakat Karangasem
Saturday, September 24, 2011
//
Labels:
Budaya Bali
// //
Sekarang ini, banyak orang yang pergi ke kota untuk bekerja. Mereka meninggalkan desa, berharap mendapat pekerjaaan dan kehidupan yang lebih baik. Kota dianggap sebagai tempat yang bisa menyediakan hidup yang lebih dinamis, berbagai macam hiburan yang lebih lengkap, serta keadaan yang lebih menyenangkan. Kota pun menjadi penuh sesak, persaingan untuk memperoleh pekerjaan semakin meningkat dan kompleks. Di lain pihak, desa menjadi kehilangan tenaga kerja, banyak lahan yang mulai ditinggalkan, cara bertani yang diwariskan secara turun temurun semakin kehilangan peminatnya.
Benarkah kehidupan kota merupakan hal yang kita cari-cari? Sebenarnya di manakah tempat yang bisa membuat kita bahagia?
Dari dulu orang memang mencari-cari sumber kebahagian. Ada yang berpandangan, pindah ke suatu tempat memungkinkan ia bisa meraih kebahagiaan yang Ia cari-cari. Sebenarnya, itu mungkin bukan jawaban yang tepat. Ada orang, ketika tinggal di desa, merasa menemukan kedamaian dan kebebasan yang tidak bisa ia dapatkan di tempat lain. Kehidupan yang tenang menjadi sesuatu yang tak ternilai. Ada orang juga yang merasa tinggal di kota benar-benar bisa membuatnya bersemangat, bisa memenuhi apa yang Ia cari-cari.
Mungkin menurut saya, yang benar-benar menentukan adalah suasana hatinya. Saat seseorang merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam hati, Ia menemukan suasana kota yang hiruk pikuk menjadi setenang didesa. Segala kehidupan yang rumit dihadapi dengan hati yang lega. Sebaliknya, saat di desa Ia merasakan semua kesederhanaan tidak mengurangi kepuasan hatinya. Ketenangan dan kedamaian selalu terasa.
Jadi, tempat yang kita cari-cari mungkin tidak jauh dari kita. Jika hati tenang dan damai, di manapun kita berada, secangkir teh bisa membuat kita bahagia.
--
id.widnyana
widnyana@fastmail.fm
Description: Desa vs Kota, Mana Yang Lebih Baik?
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
Item Reviewed: Desa vs Kota, Mana Yang Lebih Baik?
Friday, September 23, 2011
//
Labels:
Berita Umum
// //
Di tengah sawah dan dikelilingi oleh perbukitan hijau yang indah, lokasi Tirtagangga begitu damai dan indah. Tirtagangga merupakan taman air kerajaan milik keluarga kerajaan Karangasem. Terletak di desa Ababi, sekitar 83 km dari Denpasar atau 6 km utara Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem.
Taman air ini dibangun pada tahun 1948 atas prakarsa Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Arsitektur taman air ini merupakan gabungan dari arsitektur gaya Bali dan Cina. Sebelum dibangun menjadi taman air, sumber air telah berada di sana sebelumnya, yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar akan air namun diyakini juga sebagai air suci untuk memurnikan setiap energi buruk di sekitar daerah tersebut.
Tirta berarti air yang diberkati dan diambil dari nama sungai Gangga di India. Air dari mata air Tirtaganga dianggap sebagai air suci oleh umat Hindu di Bali. Air ini digunakan untuk upacara keagamaan di Pura-Pura di daerah tersebut sampai saat ini. Mata air ini diperlukan untuk upacara yang diselenggarakan oleh Pura-Pura di sekitar Tirtagangga yang dapat dicapai dengan berjalan kaki.
Memasuki satu taman dapat dilihat bahwa terdapat sebuah kolam di sisi kanan yang dihiasi oleh bebatuan dekoratif yang diletakkan di sekitar kolam, sementara yang lainnya berfungsi sebagai jembatan. Patung dewa dan dewi berdiri anggun di tengah-tengah kolam air yang dingin. Ikan mas berenang di kolam air, sisik mereka bersinar seperti cahaya matahari yang terpantul ke dalam air. Bagian ini adalah tingkat Swah. Pada tingkat ini, di mana selain dua kolam hias, terdapat pula kolam renang di mana penduduk lokal atau pengunjung dapat menikmati berenang pada mata air yang dingin.
Luas taman air adalah 1,2 ha, terdiri dari tiga tingkatan tanah membentang dari timur ke barat. Di tingkat menengah, tingkat Bwah, terdapat sebelah buah air mancur Nawa Sanga berdiri elegan. Dan di tingkat Bhur, di sisi kiri jalan, lurus dari pintu masuk di sebelah barat terdapat kolam besar dengan sebuah pulau di tengah-tengahnya.
Sumber air ini menghasilkan air murni yang sangat besar. Salah satu dari ketiga aliran air ini digunakan untuk menyediakan air minum bagi kota Amlapura. Beberapa dialirkan ke kolam renang bagian atas melalui pipa bawah tanah, sementara yang lainnya masuk ke dalam kolam renang yang lebih rendah dan untuk mengairi sawah yang mengelilingi taman air ini.
Tempat ini sangat bagus untuk membebaskan diri dari cuaca panas karena cuaca di daerah ini cukup panas. Berjalan-jalan santai atau mencelupkan kaki anda ke dalam air dingin sangat menyenangkan, atau mengambil beberapa foto dari pemandangan-pemandangan yang indah.
Tirta berarti air yang diberkati dan diambil dari nama sungai Gangga di India. Air dari mata air Tirtaganga dianggap sebagai air suci oleh umat Hindu di Bali. Air ini digunakan untuk upacara keagamaan di Pura-Pura di daerah tersebut sampai saat ini. Mata air ini diperlukan untuk upacara yang diselenggarakan oleh Pura-Pura di sekitar Tirtagangga yang dapat dicapai dengan berjalan kaki.
Memasuki satu taman dapat dilihat bahwa terdapat sebuah kolam di sisi kanan yang dihiasi oleh bebatuan dekoratif yang diletakkan di sekitar kolam, sementara yang lainnya berfungsi sebagai jembatan. Patung dewa dan dewi berdiri anggun di tengah-tengah kolam air yang dingin. Ikan mas berenang di kolam air, sisik mereka bersinar seperti cahaya matahari yang terpantul ke dalam air. Bagian ini adalah tingkat Swah. Pada tingkat ini, di mana selain dua kolam hias, terdapat pula kolam renang di mana penduduk lokal atau pengunjung dapat menikmati berenang pada mata air yang dingin.
Luas taman air adalah 1,2 ha, terdiri dari tiga tingkatan tanah membentang dari timur ke barat. Di tingkat menengah, tingkat Bwah, terdapat sebelah buah air mancur Nawa Sanga berdiri elegan. Dan di tingkat Bhur, di sisi kiri jalan, lurus dari pintu masuk di sebelah barat terdapat kolam besar dengan sebuah pulau di tengah-tengahnya.
Sumber air ini menghasilkan air murni yang sangat besar. Salah satu dari ketiga aliran air ini digunakan untuk menyediakan air minum bagi kota Amlapura. Beberapa dialirkan ke kolam renang bagian atas melalui pipa bawah tanah, sementara yang lainnya masuk ke dalam kolam renang yang lebih rendah dan untuk mengairi sawah yang mengelilingi taman air ini.
Tempat ini sangat bagus untuk membebaskan diri dari cuaca panas karena cuaca di daerah ini cukup panas. Berjalan-jalan santai atau mencelupkan kaki anda ke dalam air dingin sangat menyenangkan, atau mengambil beberapa foto dari pemandangan-pemandangan yang indah.
(Sumber, Pemkab Karangasem)
Description: Sejarah Tirta Gangga
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
Item Reviewed: Sejarah Tirta Gangga
//
Labels:
Budaya Bali
// //
Waliangers. Powered by Blogger.


